KETIKA PENJAJAHAN BUKAN LAGI PERANG

Diposting pada: 2014-01-11, oleh : Muhammad Sobirin Wahyu, Kategori: Essay

“1001 macam itu bidang pekerjaan

Dari jadi pengamen sampai jadi seorang presiden

1001 macam cara orang cari makan

Dari penjual koran sampai penjual kehormatan….”

 

Masih ingat kan dengan lagu bang haji Rhoma Irama di atas? Yak, kebanyakan lagu-lagu bang Rhoma ini melukiskan keadaan di Indonesia. Penyanyi yang kondang dengan suara khasnya ini memang banyak digemari oleh penggemar musik dangdut. Apalagi dengan lagu-lagunya yang sarat makna.

Mendengar penggalan lagu di atas, apa yang tersirat di benak Anda?

Bagi sebagian besar orang, bekerja merupakan kebutuhan setiap orang untuk mencukupi hidupnya. Semakin hari, pekerjaan semakin beraneka ragam. Termasuk, korupsi? Apakah korupsi sekarang ini “layak” disebut bidang pekerjaan? Mengingat begitu banyak kalangan yang memanfaatkan kegiatan ini untuk mencari uang. Mulai dari lingkungan desa, sampai pemerintah kita di megapolitan. Seolah-olah mereka tidak menimbang dan memikirkan konsekuensi dari kegiatannya tersebut. Bukan hanya konsekuensi untuk dirinya sendiri yang harus masuk bui, tapi yang terpenting adalah untuk masyarakat yang dipimpinnya. Terlebih keluarganya sendiri yang harus dihidupi dengan asupan kebutuhan dari hasil yang tidak halal.

Masih banyak saudara-saudara kita di tanah air yang tinggal di tempat yang masih belum layak, serba kekurangan, minim keamanan, dan kurangnya pelayanan kesehatan. Sementara itu jauh di atasnya, orang-orang bisa tinggal di tempat mewah dan serba berkecukupan. Namun apalah bahagianya jika pada akhirnya, harta kekayaan itu tergeletak dan tidak bisa dinikmati lagi dengan adanya silang merah penyitaan KPK.

Apa yang sebenarnya terjadi di negeri kita ini? Ujian ataukah cobaan? Atau hukuman?

Setelah beberapa waktu lalu kita dinyatakan merdeka dari naungan para penjajah, apakah sekarang kita bisa disebut merdeka dengan keadaan yang seperti ini? Kini banyak masyarakat yang kurang menyadari hal tersebut. Tanpa dinyana, penjajahan telah beralih dari peperangan fisik menjadi peperangan moral dan perasaan. Buktinya, sekarang masyarakat merasa lebih tersakiti dengan adanya “korupsi” dari pada peperangan. Meski tidak semua kalangan terjerat kasus tersebut, namun, karena “nila setitik rusak susu sebelanga”, telah tercoreng wibawa pemerintahan.

Ayo para pemuda, generasi penerus yang hidup lebih cerdas, lebih merdeka, jeli terhadap apa-apa yang di depan  mata. Selayaknya sebagai pemimpin, haruslah yang bisa menjadi teladan, dan rumah yang sejuk sebagai tempat berlindung yang nyaman bagi masyarakatnya. Seperti yang telah dicontohkan oleh pemimpin-pemimpin kita terdahulu. Dan hendaknya kita sebagai masyarakat yang diberi hak untuk memilih pemimpin juga harus melihat benar bagaimana sosok seorang calon pemimpin yang sekiranya bisa membawa masyrakat menuju kehidupan yang lebih baik. Semoga Tuhan memberi petunjuk.


Print BeritaPrint PDFPDF
Terima kasih telah berkunjung di Website Kami, semoga dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi Anda.

Ingin berlangganan artikel edukasi GRATIS ke email anda, subscribe email anda dibawah ini.

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar Anda


Nama*
Email* Tidak akan diterbitkan
Url  Ketik tanpa http:// contoh :www.kejari.com
Komentar*
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 1 komentar untuk berita ini

Forum Multimedia Edukasi  www.formulasi.or.id